Selasa, 13 Desember 2011

"Mimpi 3 Anak Cemara"

      Judul ini diambil dari homili Romo Duma, dalam pelayanannya kepada SD Marie Joseph. Romo memimpin Misa Akhir Semester hari ini Selasa, 13 Desember 2011 pada Pkl.08.00 bertempat di Aula SMP Marie Joseph.

Saat Homili

        Dalam homilinya Romo menceritakan sebuah kisah menarik tentang impian 3 anak pohon cemara. Inilah kisahnya
 
       Jaman dahulu kala di suatu hutan, hiduplah 3 anak cemara. Satu hari beranganlah mereka akan keinginannya jika besar kelak. Cemara Pertama, berkeinginan untuk menjadi peti kayu yang dapat menyimpan harta benda dan barang berharga pemiliknya. Berkatalah cemara Kedua "aku ingin menjadi sebuah kapal pesiar yang dapat ditumpangi oleh para saudagar kaya sampai ke negeri seberang" . Tetapi anak cemara Ketiga tidak menginginkan apapun, ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Kedua temannya pun hanya terheran.

              Bulan dan tahun pun bergulir, tibalah masa dewasa si ketiga cemara. Sampai di satu pagi, datanglah seorang penebang yang ingin mengambil kayu cemara. Ia memilih pohon cemara Pertama, dan dibawanya pulang. Sesampainya di rumah, ia pun menghaluskan kayunya, dan ia berniat untuk  membentuknya sebagai tempat pakan ternak. Maka pasrahlah ia. 
Satu malam di musim dingin, di saat orang terlelap, tersebutlah pasangan yang mencari tempat berlindung, mereka meletakkan bayinya di atas tempat pakan ternak itu. Cemara pertama pun takjub, saat satu bintang terang tiba-tiba menyentuh hangat dirinya dengan sinar berkilau. Ia pun terharu dan bersyukur.

             Tahun kembali bergulir, datanglah seorang nelayan menebang si cemara Kedua. Ia membutuhkan kayu untuk mengolahnya menjadi sebuah perahu layar untuk melaut. Begitulah kesehariannya ia menemani tuannya melaut Satu hari yang cerah saat ia sedang berada di tepi danau besar, datanglah seorang Guru menghampiri. Mereka pun berlayar. Sekonyong-konyong bergemuruhlah ombak disertai angin kencang, inilah hal yang paling ditakutinya. Di tengah deru suara angin lamat-lamat ia mendengar Sang Guru Bijak mengucapkan kata, dan ajaib redalah semuanya! Ia pun berterimakasih dan bersyukur.

                Tinggalah si cemara Ketiga yang masih berdiri kokoh, beberapa tahun kemudian akhirnya ia pun ditebang oleh seorang pengumpul kayu. Sang penebang menyimpannya di dalam sebuah gudang menjadi tumpukan kayu yang siap pakai. Tiba satu hari, di tengah keriuhan kota , datang beberapa prajurit mendobrak pintu gudang tadi. Mereka mengambil kayu si cemara Ketiga untuk dijadikan salib. Si cemara hanya pasrah dan turut sedih, manakala ada Seseorang dihujat serta  tubuhnya dipaku di atasnya. Seketika gelaplah semesta , langit bergemuruh dan dari tempatnya ia melihat semua orang berlutut kepadanya. Ia seakan tak percaya, dan bersyukurlah ia akan perjalanan hidupnya.

*Bermimpilah dan maknailah hidupmu sbab ada rencana Tuhan yang indah bagimu...

0 komentar: